Sering sekali saya melewati desa klopodhuwur yang merupakan pusat ajaran samin jaman dahulu, tempat dimana samin surosentiko menyebarkan ideologinya. Desa klopodhuwur ini terletak di blora pinggir, arah menuju desa randublatung. Awalnya saya tidak menyadari perbedaan saat pertama kali bertemu dengan masyarakat disana, soalnya waktu itu saya masih SMP. Ayah saya sering mengajak saya untuk sekedar ngobrol dengan mereka, ayah saya sudah 20 tahun nglaju (istilah untuk pp). ayah saya seorang guru agama di desa kamolan Blora, jarak yang di tempuhnya setiap hari 60 KM untuk perjalanan pulang pergi. saya selalu bangga dengan ayah saya, bagi saya itulah seorang pahlawan tanpa tanda jasa.Saya sekolah di Blora atas permintaan orang tua saya, saat itu saya sekolah di SMP N 1 Blora, seneng banget lewat jalan randublatung-blora walaupun jalannya waktu itu jelek, satu hal yang saya suka: alamnya subur diperjalanan disuguhi dengan pemandangan hutan jati yang hijau permai, ada di satu spot daerah ngliron yang hutan jatinya sudah tua dan kering tapi itupun cantik banget, klo lagi musim entung(kepompong yang biasanya dimakan oleh masyarakat blora) dipinggir hutan banyak sekali yang menawarkannya dengan harga per kilonya 9000, sayangnya saya tidak pernah mencobanya karena menurut kami itu haram, si entung hidup di dua alam.
Balik ke samin ya, klo yang di klopodhuwur mennurut saya mereka sudah hidup maju, kebanyakan orang samin tu lebih suka hidup terisolasi lho, ya karena stigma negatif dan adanya streotype, sekarang udah berubah lho serius. orang Blora mulai menghargai mereka dan menerima perbedaan itu. saya cuma pernah ketemu sekali sama mereka yang tinggal di pelosok, tempatnya plosok bangetuntuk masuk ke dusunnya cukup waktu 30 menit dari jalan utama, but inilah blora dimana-mana ada hutan jati jadi aq menikmati banget perjalanannya. saat itu saya lagi magang di perusahaan minyak(pertamina) dan sedang mengadakan kegiatan CSR dengan membagikan sembako ke wilayah kerja Pertamina, dusunya kecil dan jauh dari mana-mana, keadaan merekapun sangat-sangat sederhana. ga bisa bahasa Indonesia dan ga norak, mereka menerima kami apa adanya, ramah. rumanyapun jadi satu sama kandang ternak lho, coba bayangin. ya karena kehidupan ekonomi mereka yang rendah, sebagian besar mereka menggantungkan hidup dari alam.merekapun sepertinya belum kenal pasta gigi, gimana nggak waktu saya liad giginya masih kuning2. mereka masih lugu dan polos belum terjamah teknologi. ke unikan mereka saat mas jo(staff humas pertamina) minta surat tanda terima kasih, ga dikasih lho ma mereka, mereka ga bisa nulis dan ga ada stempel atau lainnya. ya sebenarnya cuma buad bukti ke atasan aja, pas di bagiin pun cukup lama, hua... ya itulah keunikan mereka bahkan sampe sekarang klo minta pajak mereka tetep ga mau bayar lho, pinter khan soalnya tahu entar ada banyak gayus, he bercanda.. katanya ya klo mau minta pajak bilangnya gini, pemerintah butuh di bantu buad bangun jalan, dll. klo bilang pajak kosong akhirnya. i still like them, aku suka dengan kejujuran mereka dan kesedrhanaan mereka, kecintaan mereka pada alam.
Sekarang malah bangga lho ma samin, sama pemerintah pusatpun mereka diakui buktinya sekarang klo kalian lewat jalan randu-blora di desa klopodhuwur ada gapura etnik warnanya biru, itu bentuk bantuan pemerintah kepada orang samin. ada pengakuan keberadaan mereka.saya tak pernah menyebut mereka suku, karena mereka bukanlah suku. mereka hanya orang yang punya ideologi sendiri dan sedikit berbeda^^.
halo, salam kenal 0_0
BalasHapusapa kamu suka pisang rebus?