Total Tayangan Halaman

Minggu, 28 November 2010

Perempuan Disunat??

Setelah mengenal komunikasi gender, kini saya lebih peka terhadap diskriminasi yang terjadi pada kaum perempuan. Sudah banyak nilai-nilai dan mitos yang diciptakan untuk menekan posisi perempuan. Dulu padahal perempuan adalah sosok yang suci dan di agungkan, kini jaman telah berubah, posisi perempuan di bawah laki-laki. Berharap sebuah kesetaraan kembali terjadi.
Kenapa judulnya perempuan disunat? Awalnya saya juga hanya mengenal bahwa hanya laki-lakilah yang disunat, saat pertama kali saya mendengarnya saya berfikir “apanya yang akan disunat”. Lalu saya mencari-cari dan kaget bahwa ini juga terjadi di Indonesia. Sunat perempuan ini dilakukan dengan cara memotong bagian klitoris perempuan, ada yang sebagian dan ada yang memotongnya semuanya. Aduhhh, pasti sakit benar. Kegiatan ini paling banya k dilakukan di Afrika, fasilitas yang di berikannyapun kurang baik, dan pengobatan yang kurang steril. And did you know, why it has been? Soalnya orang afrika percaya dengan sunat di klitoris bisa mengontrol seksualitas perempuan…. Jahat banget khan. Bahkan di Indonesia juga ada, di daerah Aceh. Sebab musababnya berbeda klo mereka di Aceh menganut klo perempuan ga disunat berarti dia belum masuk Islam, padahal setahu saya Cuma ada rukun islam dan didalamnya tidak menyebutkan disunat bagi yang perempuan.
Kasihan mereka yang mengalami sunat, sudah kehilangan bagian dari tubuhnya dan klitoris berperan penting dalam tercapainya orgasme bagi perempuan. Kata om Freud sih ini yang namanya penis envy, jadi menurut dia perempuan kepingin seperti laki-laki dan kepingin punya penis seperti laki-laki, penis kecil perempuan adalah klitoris itu. Hidih, menurut saya sih ya adanya klitoris envy bahwa si laki-laki takut klo perempuan menyamai penis mereka, dan mereka iri melalui klitorislah perempuan mencapai orgasme yang maksimal. (inspired by “o” project nice book mba firliana” ).
And the and, saya yakin ga semua laki-laki ingin dominasi. Berharap semua laki-laki bisa memegang rasa kebersamaan dan kesetaraan jadi tak perlu lagi siapa yang lebih dominan semua bisa diselesaikan dengan jalan tengah.
“ jangan sebut aq perempuan jika hidup hanya berkalang lelaki, tapi bukan berarti aku tak butuh untuk di cintai”__ nyai Ontosoroh(Bumi manusia : pramudya ananta toer)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar